Sandaran

Aku pergi ke sebuah kota
Tentu dengan kendaraan yang dipuja-puja oleh mereka
Menduduki suatu kursi asing
Yang menumbuhkan sebuah daun yang ada di kepalaku
Dan membuat daun ini berkata bahwa kursi itu adalah kursi kasar
Yang membuat akar-akar dikepalaku memanjang

Kami menempuh perjalanan yang tak habis masa waktu nya
Kepanjangan waktu nya dapat memakan setengah umur kami berdua
Pada saat aku meninggalkan tunggangan tersebut
Daun yang ada di kepalaku pun jatuh dan berkata

Baru kurasa kursi pesawat senyaman ini
Kursi pesawat yang sangat istimewa
Kursi pesawat ini telah menyiapkan dirinya untuk menemaniku

Ia rela menemaniku tidur
Ia rela menemaniku makan
Ia rela menemaniku berdansa riang
Ia adalah tempat ternyaman untuk bersandar
Bahkan ia lebih mengenalku dibandingkan diriku sendiri mengenalku sekarang

Terkadang ini membuktikan bahwa
kamu tidak bisa menilai siapa yang tulus dan siapa yang tidak tulus
Kecuali kau menaruh jiwamu padanya

Semua jiwa mu, tidak duaperempat-nya, tidak sepertiga-nya, tidak sebagiannya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s